Rasulullah s.a.w. bersabda, "Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, aku lebih suka berperang di jalan Allah dan mendapat syahid, dan dihidupkan kembali untuk mendapatkan syahid, dan dihidupkan kembali untuk mendapatkan syahid, dan dihidupkan kembali untuk mendapatkan syahid, dan dihidupkan kembali." (Riwayat al-Bukhari)
May 15, 2008
Orang Binasa....
Sesungguhnya Allah jika menghendaki membinasakan seorang hamba, mk Dia mncabut dari orang itu rasa malu. Jika telah tercabut darinya rasa malu, engkau tidak menjumpai orang itu kecuali bergelimang dosa. Jika engkau tidak menjumpai kecuali bergelimang dosa, dicabut (pula) dari dirinya amanah. Apabila telah dicabut darinya amanah, engkau tidak menjumpainya kecuali sebagai orang yang berkhianat dan dikhianati. Jika engkau tidak menjumpainya kecuali dalam keadaan berkhianat dan dikhianati, maka dicabut darinya rahmat (Allah). Apabila telah dicabut darinya rahmat (Allah), engkau tidak menjumpainya kecuali dalam keadaan terkutuk dan terlaknat. Jika engkau tidak menjumpainya kecuali dalam keadaan terkutuk dan terlaknat, maka dicabut darinya ikatan dengan Islam?. (HR. Ibnu Majah)
Pesanan Imam Syafie
PESANAN IMAM SYAFIE,SESIAPA YANG INGIN MENINGGALKAN DUNIA DENGAN SELAMAT,HENDAKLAH DIA MENGAMALKAN SEPULUH PERKARA TERSEBUT : 1) Hak diri , iaitu mengurangkan tidur,mengurangkan makan,mengurangkan bercakap dan berpada-pada dengan rezeki yang ada. 2) Hak malaikat maut , iaitu mengqadakan kewajipan yang tertinggal ,mendapatkan kemaafan daripada orang yang dizalimi,membuat persediaan untuk mati dan rasa cinta kepada Allah. 3) Hak kubur , iaitu membuang tabiat suka manabur fitnah,membuang air kecil merata-rata,memperbanyakkan solat tahajud dan membantu orang yang dizalimi. 4) Hak Munkar Nankir , iaitu tidak berdusta,meninggalkan maksiat dan menasihati. 5) Hak mizan , iaitu menahan marah,banyak berzikir,mengikhlaskan amalan dan sanggup menanggung kesulitan
April 28, 2008
Renugan: Muhammadkah yang menciptakan Al-Quran
Word--------------- Meaning--------------- Mentioned in the Quran
Al-Dunya This World 115(times)
Al-Akhira The Here After 115
Al-Mala'ikah Angles 88
Al-Shayateen Satan 88
Al-Hayat Life 145
Al-Maout Death 145
Al-Rajul Man 24
Al-Mar'ha Women 24
Al-Shahr Month 12
Al-Yahom Day 365
Al-bahar Sea 32
Al-bar Land 13
If we add up the total words of both "sea" and "land" we get 45. Now if we do a simple calculation:
32/45 X 100% = 71.11111111%
13/45 X 100% = 28.88888888%
Al-Dunya This World 115(times)
Al-Akhira The Here After 115
Al-Mala'ikah Angles 88
Al-Shayateen Satan 88
Al-Hayat Life 145
Al-Maout Death 145
Al-Rajul Man 24
Al-Mar'ha Women 24
Al-Shahr Month 12
Al-Yahom Day 365
Al-bahar Sea 32
Al-bar Land 13
If we add up the total words of both "sea" and "land" we get 45. Now if we do a simple calculation:
32/45 X 100% = 71.11111111%
13/45 X 100% = 28.88888888%
April 18, 2008
Duri DALAM JIWA (Asywak)
ABSTRACT:
Keterusterangan memang sesuatu yang kadang menyakitkan, apalagi itu adalah sebuah nilai kesucian. Namun, kesucian yang kini tertancap duri tajam akankah mampu menggoyahkan sendi-sendi kebahagian? Akankah seorang lelaki bersabar dan setia menghadapi kenyataan, bahwa sang kekasih telah tertoreh luka karena duri tajam? Sementara, sang wanita yang telah terluka dicekam ketakutan seolah malam persembahan kesucian adalah saat kiamat tiba.
Hidup dalam mimpi telah memperbesar khayalan, dan makhluk inilah yang menjadi teman hidup. Terbebas atau terpenjara oleh mimpi mungkin tidak penting, karena yang terpenting sang lelaki telah tahu apa makna duri yang tersembunyi di tengah jiwa. Duri yang ketika menancap dijiwa memang menyakitkan, tetapi seiring waktu merambat, kehadirannya justru membuat hidup menjadi berharga, setidaknya untuk direnungkan dan digali mutiara intan berlian kekayaan batinnya.
*************************************************************************************
Kerinduan...selalu membuat kehagiaan. Kerinduan itu pulalah yang membuat sepasang kaki seolah berlomba, bergerak bagai mesin bergantian. Karenanya, jantung pun terus memompa rindu, harapan keluar masuk melalui jaringan darah, hingga sekujur tubuh menjadi hidup dan bersemangat. Impian juga menyelimuti hati dan raga, menggerakkan jasad untuk membangun sebuah rumah mungil yang selalu dirindukan, menjalani hari-hari dengan khayalan, dan hidup dalam mimpi-mimpi ini seperti hidup dalam kenyataan. Tapi khayalan pulalah yang membuat kita tenggelam, karena terkadang tidak bisa membedakan antara khayalan dan kenyataan. Lantas, apa bedanya khayalan dan kenyataan bila masing-masing ditanggapi dengan hati dan pikiran, serta meninggalkan bekas dalam jiwa dan kehidupan? Apa bedanya antara mimpi dan kenyataan, bila masing-masing merupakan khayalan yang lewat, yang memberikan bayangannya pada jiwa, lalu beberapa saat kemudian bersembunyi dari alam indera?
Kenyataan yang ada, sang kekasih telah tergores luka tajam. Ia tertusuk, sadar telah terbangun dan kehilangan mimpi bersama bidadari yang dituntun dengan kedua mata terpejam menuju tempat tinggal penuh keindahan. Seorang bidadari yang sejak perjumpaan pertama telah membuatnya terpesona dan mabuk kepayang. Karena sang bidadari itu pulalah ia mempersiapkan raga dan seluruh perasaan demi menyongsong hari yang dijanjikan, hidup bersamanya untuk mempersembahkan gairahnya dalam sebuah rumah tangga yang disahkan agama.
Ia membayangkan dirinya di saat-saat tidak lagi hidup di bumi dan hanya merasa bahwa kehidupan adalah semata-mata impian yang membahagiakan. Impian itu kadang berupa lagu merdu yang penuh rahasia, menggemuruhkan hati, menggerakkan pikiran, dan membangkitkan kemabukan, impian, kerinduan, dan keluluhan dalam perasaan. Ia telah mencintai gadis itu yang selalu menyanyi dengan tangan dan hati, dengan urat syaraf dan paras muka yang segar. Gadis itu adalah lagu itu sendiri dalam bentuk nyata sebelum akhirnya duri-duri pun muncul mengganggu. Lagu itu pelan-pelan merayap ke dalam dirinya dan dengan halus nada-nada lembut pun tumpah dalam syarafnya. Diri menjadi tenang dan syarafnya lega. Ia terlena, mabuk, lalu melayang-layang di angkasa rasa yang jernih.
Namun, kenyataan kadang terpisah dengan khayalan, tapi itu menjelma pada dalam diri bidadarinya. Ya! Ia adalah bidadari, sekaligus ibu, ibu yang kelak dari rahimnya terlahir si kecil dengan selimut kasih sayang. Sang bidadari kemudian membungkuk dengan penuh kasih lalu mengangkat si kecil ke dalam dekapannya dengan lembut, menepuk-nepuk punggungnya dan menuju ke ranjang dengan pelan. Kemudian terpampanglah pemandangan yang mempesona yang belum pernah terlihat selama hidupnya, kecantikan yang terpancar dalam wajah rupawan, pandangan penuh kasih dalam dua mata penuh pesona, gerakan lemah dalam anggota tubuh yang matang, dan ciuman panjang dari dua bibir yang menggoda. Ah...ia memang bidadari, karena hanya bidadarilah yang memiliki sifat-sifat keibuan yang sempurna
Saat rembulan menyuguhkan hidangan malamnya, ia merasa ada semacam kesucian pada sang gadis. Namun, saat terlontar pikiran seperti itu, terkadang kedukaan yang begitu berat dan kebisuan menusuk-nusuk, menyedihkan. Ia lalu mematikan lampu, dan menuju tempat tidur sambil mencoba menahan air mata sebisa mungkin. Ketika berbaring, air mata itu bergerak, menerobos kelopak mata, menuju ke pipi, ke bantal dan membasahi sarung bantal dan kapuk di dalamnya. Sang lelaki tegar pun tertidur dengan tubuh lemah. Air mata menjadi bahasa sunyi dan wakil dari perasaan duka yang dihimpit oleh nasib.
Saat ia terbangun, ia mendapati dirinya berjiwa harum. Ia bangun dengan jiwa yang jernih, seperti kejernihan seorang sufi. Haruskah ia meninggalkan sang gadis yang telah bergulat dengan duri-duri, dan melawan masa lalu? Bahkan, setelah itu semua, sang gadis memberikan jiwa kepadanya, tanpa tirai atau selimut apa pun. Kerinduan itu menusuk kembali. Perasaannya menggelora hebat dan raganya bergetar karena cinta. Segala sesuatu yang ada pada sang gadis telah menjadi bagian dari kecintaan, disenangi jiwanya, dan mengalirkan cinta dalam tulang sumsumnya. Sesuatu itu diselimuti cahaya mempesona, yang memunculkan khayalan dan mimpi indah memabukkan, hingga ia larut dalam lautan kerinduan.
Akankah sang lelaki bebas atau terpenjara oleh mimpi? Baginya, semua itu tidak penting. Sebab ia telah tahu apa makna duri yang tersembunyi di tengah jiwa. Duri yang ketika menancap dijiwa memang menyakitkan, tetapi lama kelamaan kehadirannya justru membuat hidup menjadi berharga. Setidaknya untuk direnungkan dan digali mutiara intan berlian kekayaan batinnya, juga kekayaan cinta yang sangat sulit dirumuskan ketinggian nilainya. Ya...cinta memang telah membuat sang lelaki merasa kaya, dan ia merasa cukup mensyukuri hal ini selama hari-hari bergerak menuju ujung hidupnya.
*IKATLAH ILMU DENGAN MENULISKANNYA*
Al-Hubb Fillah wa Lillah
---------------------------------
Original Title: Duri Dalam Jiwa (Asywak)
Author: Sayyid Qutb
Editor: Abu Aufa
Catatan: Ide tulisan ini adalah dari sebuah novel yang berjudul Duri Dalam Jiwa, Penerbit Navila. Sayyid Qutb menulis novel ini pada tahun 1947, jauh sebelum beliau bergabung dengan Ikhwanul Muslimin.
Keterusterangan memang sesuatu yang kadang menyakitkan, apalagi itu adalah sebuah nilai kesucian. Namun, kesucian yang kini tertancap duri tajam akankah mampu menggoyahkan sendi-sendi kebahagian? Akankah seorang lelaki bersabar dan setia menghadapi kenyataan, bahwa sang kekasih telah tertoreh luka karena duri tajam? Sementara, sang wanita yang telah terluka dicekam ketakutan seolah malam persembahan kesucian adalah saat kiamat tiba.
Hidup dalam mimpi telah memperbesar khayalan, dan makhluk inilah yang menjadi teman hidup. Terbebas atau terpenjara oleh mimpi mungkin tidak penting, karena yang terpenting sang lelaki telah tahu apa makna duri yang tersembunyi di tengah jiwa. Duri yang ketika menancap dijiwa memang menyakitkan, tetapi seiring waktu merambat, kehadirannya justru membuat hidup menjadi berharga, setidaknya untuk direnungkan dan digali mutiara intan berlian kekayaan batinnya.
*************************************************************************************
Kerinduan...selalu membuat kehagiaan. Kerinduan itu pulalah yang membuat sepasang kaki seolah berlomba, bergerak bagai mesin bergantian. Karenanya, jantung pun terus memompa rindu, harapan keluar masuk melalui jaringan darah, hingga sekujur tubuh menjadi hidup dan bersemangat. Impian juga menyelimuti hati dan raga, menggerakkan jasad untuk membangun sebuah rumah mungil yang selalu dirindukan, menjalani hari-hari dengan khayalan, dan hidup dalam mimpi-mimpi ini seperti hidup dalam kenyataan. Tapi khayalan pulalah yang membuat kita tenggelam, karena terkadang tidak bisa membedakan antara khayalan dan kenyataan. Lantas, apa bedanya khayalan dan kenyataan bila masing-masing ditanggapi dengan hati dan pikiran, serta meninggalkan bekas dalam jiwa dan kehidupan? Apa bedanya antara mimpi dan kenyataan, bila masing-masing merupakan khayalan yang lewat, yang memberikan bayangannya pada jiwa, lalu beberapa saat kemudian bersembunyi dari alam indera?
Kenyataan yang ada, sang kekasih telah tergores luka tajam. Ia tertusuk, sadar telah terbangun dan kehilangan mimpi bersama bidadari yang dituntun dengan kedua mata terpejam menuju tempat tinggal penuh keindahan. Seorang bidadari yang sejak perjumpaan pertama telah membuatnya terpesona dan mabuk kepayang. Karena sang bidadari itu pulalah ia mempersiapkan raga dan seluruh perasaan demi menyongsong hari yang dijanjikan, hidup bersamanya untuk mempersembahkan gairahnya dalam sebuah rumah tangga yang disahkan agama.
Ia membayangkan dirinya di saat-saat tidak lagi hidup di bumi dan hanya merasa bahwa kehidupan adalah semata-mata impian yang membahagiakan. Impian itu kadang berupa lagu merdu yang penuh rahasia, menggemuruhkan hati, menggerakkan pikiran, dan membangkitkan kemabukan, impian, kerinduan, dan keluluhan dalam perasaan. Ia telah mencintai gadis itu yang selalu menyanyi dengan tangan dan hati, dengan urat syaraf dan paras muka yang segar. Gadis itu adalah lagu itu sendiri dalam bentuk nyata sebelum akhirnya duri-duri pun muncul mengganggu. Lagu itu pelan-pelan merayap ke dalam dirinya dan dengan halus nada-nada lembut pun tumpah dalam syarafnya. Diri menjadi tenang dan syarafnya lega. Ia terlena, mabuk, lalu melayang-layang di angkasa rasa yang jernih.
Namun, kenyataan kadang terpisah dengan khayalan, tapi itu menjelma pada dalam diri bidadarinya. Ya! Ia adalah bidadari, sekaligus ibu, ibu yang kelak dari rahimnya terlahir si kecil dengan selimut kasih sayang. Sang bidadari kemudian membungkuk dengan penuh kasih lalu mengangkat si kecil ke dalam dekapannya dengan lembut, menepuk-nepuk punggungnya dan menuju ke ranjang dengan pelan. Kemudian terpampanglah pemandangan yang mempesona yang belum pernah terlihat selama hidupnya, kecantikan yang terpancar dalam wajah rupawan, pandangan penuh kasih dalam dua mata penuh pesona, gerakan lemah dalam anggota tubuh yang matang, dan ciuman panjang dari dua bibir yang menggoda. Ah...ia memang bidadari, karena hanya bidadarilah yang memiliki sifat-sifat keibuan yang sempurna
Saat rembulan menyuguhkan hidangan malamnya, ia merasa ada semacam kesucian pada sang gadis. Namun, saat terlontar pikiran seperti itu, terkadang kedukaan yang begitu berat dan kebisuan menusuk-nusuk, menyedihkan. Ia lalu mematikan lampu, dan menuju tempat tidur sambil mencoba menahan air mata sebisa mungkin. Ketika berbaring, air mata itu bergerak, menerobos kelopak mata, menuju ke pipi, ke bantal dan membasahi sarung bantal dan kapuk di dalamnya. Sang lelaki tegar pun tertidur dengan tubuh lemah. Air mata menjadi bahasa sunyi dan wakil dari perasaan duka yang dihimpit oleh nasib.
Saat ia terbangun, ia mendapati dirinya berjiwa harum. Ia bangun dengan jiwa yang jernih, seperti kejernihan seorang sufi. Haruskah ia meninggalkan sang gadis yang telah bergulat dengan duri-duri, dan melawan masa lalu? Bahkan, setelah itu semua, sang gadis memberikan jiwa kepadanya, tanpa tirai atau selimut apa pun. Kerinduan itu menusuk kembali. Perasaannya menggelora hebat dan raganya bergetar karena cinta. Segala sesuatu yang ada pada sang gadis telah menjadi bagian dari kecintaan, disenangi jiwanya, dan mengalirkan cinta dalam tulang sumsumnya. Sesuatu itu diselimuti cahaya mempesona, yang memunculkan khayalan dan mimpi indah memabukkan, hingga ia larut dalam lautan kerinduan.
Akankah sang lelaki bebas atau terpenjara oleh mimpi? Baginya, semua itu tidak penting. Sebab ia telah tahu apa makna duri yang tersembunyi di tengah jiwa. Duri yang ketika menancap dijiwa memang menyakitkan, tetapi lama kelamaan kehadirannya justru membuat hidup menjadi berharga. Setidaknya untuk direnungkan dan digali mutiara intan berlian kekayaan batinnya, juga kekayaan cinta yang sangat sulit dirumuskan ketinggian nilainya. Ya...cinta memang telah membuat sang lelaki merasa kaya, dan ia merasa cukup mensyukuri hal ini selama hari-hari bergerak menuju ujung hidupnya.
*IKATLAH ILMU DENGAN MENULISKANNYA*
Al-Hubb Fillah wa Lillah
---------------------------------
Original Title: Duri Dalam Jiwa (Asywak)
Author: Sayyid Qutb
Editor: Abu Aufa
Catatan: Ide tulisan ini adalah dari sebuah novel yang berjudul Duri Dalam Jiwa, Penerbit Navila. Sayyid Qutb menulis novel ini pada tahun 1947, jauh sebelum beliau bergabung dengan Ikhwanul Muslimin.
April 17, 2008
Catatan Chating: Hafizi ( Al-Azhar U )
Barangsiapa menginginkan teman, cukuplah Allah menjadi temannya। Barangsiapa menginginkan kekayaan, cukuplah qana’ah menyertainya. Barangsiapa menginginkan nasihat, cukuplah kematian menasihatinya. Barangsiapa menginginkan harta simpanan, cukuplah Al-Quran menjadi barang simpanannya. Barangsiapa yang tidak cukup dengan keempat-empat hal ini, cukuplah neraka baginya."
untungnya orang mukmin, semakin banyak masalah, semakin mustajab doanya, bukan namanya perjuangan tanpa kesulitan, namun dalam kesulitan ada ketenangan, yang pastinya kita tidak sendirian, Allah s.w.t tetap bersama.’..
himra h: itu ajaibnya orang2 mukmin yang Allah berikannya jaminan!!!...
Demi allah sungguh Indah nasihatmu.
untungnya orang mukmin, semakin banyak masalah, semakin mustajab doanya, bukan namanya perjuangan tanpa kesulitan, namun dalam kesulitan ada ketenangan, yang pastinya kita tidak sendirian, Allah s.w.t tetap bersama.’..
himra h: itu ajaibnya orang2 mukmin yang Allah berikannya jaminan!!!...
Demi allah sungguh Indah nasihatmu.
Sari Nasihat
Ya Rasulullah, apa yang harus dilakukan para pemimpin ?"Membela yang lemah dan membantu yang miskin" jawab Nabi.Ya Rasulullah, apa yang harus dilakukan ulama ?Memberi contoh yang baik dan mendukung pemimpin YAng membela orang - arang lemah" jawabnya. Ya Rasulullah ... apa yang harus dilakukan orang-orang lemah dan miskin ?" Bersabarlah, dan tetplah bersabar. Jangan kau lihat pemimpinmu yang suka harta. Jangan kau ikuti ulamamu yang mendekati mereka. Jangan kau temani orang-orang yang menjilat mereka. Jangan kau lepaskan pandanganmu dari para pemimpin dan ulama yang hidupnya zuhud dari harta". Ya RAsulullah... Pemimpin seperti itu sudah tidak ada. Ulama seperti itu sudah menghilang entah kemana. Yang tersisa adalah pemimpin serakah. Yang tertinggal adalah ulama-ulama yang tamak. Banyak rakyat yang mengikuti keserakahan mereka. Ummat banyak yang meneladani ketamakan mereka..!. Apa yang harus aku lakukan, Ya... RAsulullah!, Siapa yang harus aku angkat jadi pemimpin ? Siapa yang harus aku ikuti fatwa-fatwanya ? Siapa yang harus aku jadikan teman setia ?". Wahai ummatku...Tinggalkan mereka semua. Dunia tidak akan bertambah baik sebab mereka. Bertemanlah dengan anak dan istrimu saja. Karena Allah menganjurkan, "Wa 'asiruhunna bil ma'ruf"Ikutilah fatwa hatimu. Karena hadits mengatakan, "Istafti qalbaka, wa in aftaukan nas waftauka waftauka"Dan angkatlah dirimu menjadi pemimpin. Bukankah, "Kullulkum Ra'in, ea kullukum masulun 'an ra'iyyatihi
March 19, 2008
Tinggalah kasih... Tinggalah Sayang.
Setelah hampir sebulan berada di bumi Al Haramain…kini tibalah hari yang sangat berat untuk dilalui..hari perpisahan, hari dimana aku terpaksa meninggalkan bumi barakah. Alharamain, Bumi yang menjadi kecintaan Para nabi-nabi,bumi yang dikasihi semua hati hati mukmin dan mencintainya semua makhluk di langit dan dibumi. Dengan kecintaan yang berkekalan sampailah hari kiamat. Allahhuakhbar..Yang meninggikan dan meneguhkan agamanya.
Kegawatan hati amat terasa sekali.Telahku kumpulkan semua kenangan dan Iktibar. Telah ku hayati semua sirah dan debu pahit perjuangan silam. Telahku pahat dihati replika kota makkah dan madinah. Telahku coret sirah perjalanan hati ini dengan air mata yang tertumpah… yaa rab, aku telah datang menyahut pangilanmu. Telahku berlari kencang mengejar hidayahmu sedaya upayaku. Telahku kutip muatiara kebaikan bumiMu semampuku.Telahku laksanakan haji, umrah dan ziarah, Maka terimalah amalan ku..yang aku persembahkan hanya padaMu…Maka pad hari ini engkaupun tahu bahawa akau akan pulang, meninggalkan semua kenangan dan pengalaman indah ini. Ikutkan hati memang ingin sekali tinggal lebih lama, taapi akan daya…
Pagi ini terasakan tiada fajar yang menyinsing. Walaupun kepanasan mentari dan tanah kering kontang membahang kulit. Selepas subuh aku dan semua rombongan bersiap untuk pulang. Semua peralatan dan barang2 yang dibeli telah di packing sejak semalam lagi. Pagi ini kami dihantar oleh driver UQU ke HARAM untuk mengerjakan tawaf widhak( Selamat tinggal). Isteri sekali lagi tak berpeluang untuk mengerjakannya sepertimana tawah umra selamat datang dulu. Sungguh berbeza perasaan antara tawaf selamat datang dulu tu dengan tawaf selamat tinggal. Kalau dulu perasan ini dipenuhi dengan seribu tanda tanya dan debaran yang mencengkam tetapi pagi ini keresahan, kesedihan dan pilu nankudus mengigit perasaan. Kali ku melangkah longlai dalam kesedihan seolah meninggalkan pintu cinta…menjauhi rahmat dan pemeliharaan dari yang Agung.
Sebelum subuh kami bertolak ke HARAM. Masuk sahaja kedalam masjid kami masing masing buat hal sendiri, maalomlah kami dah sangat biasa setelah selama sebulan disini. Cuma kami berjanji akan berkumpul di tempat bas sahaja setelah selesai tawaf nanti, Kira kira jam 9 pg. Selepas solat subuh aku terus mengerjakan umrah bersendirian. Tawaf kali ini penuh emosi. Seolah ingin dihirup semua barakah dan kemuliaan tanah haram ini sebagai perbelakan sebelum pergi yang entah bila akan kembali lagi.Selesai tawaf aku pergi minum air zam zam sepuas puasnya sambil berwudhuk dengan air zam zam tu…walau ada yang bising2 d sebelah aku buat dek jer…sebab inilah kali terakhir aku akan berwudhuk disini.. selepas itu aku terus mencari ruang untuk mengerjakan soalat sunat tawaf. Di belakang sikit dari tempat kawasan tawaf, tetapi masih di dataran kaabah aku solat sunat. Setelah solat aku berdoa;Segala galanya aku hadapkan didepan pintu rumahMu ya Allah…segala janji, pengharapan dan permintaan, kebimbangan dan keluh kesah,resah. Seluruh perasaan dan hati bersatu dalam suatu kenikmatan memandang dan rasa, dihadapah pintu kaabahnan indah. Tangisku bukan lagi terisak isak tapi macam budah budak, kerana kegoncangan hati yang sungguh hebat melanda. Demi allah aku tidak pernah mengis seperti ini selama lama ini…ya …bukan aku yang mencipta tangisam ini tetapi hati ini yang memaksa…Aku tahu siapa aku dan aku tahu pada saat ini engkau sangat mendengar rintihan hatiku ini,maka aku serahkanlah segalanya padamu pada pagi ini. Serahkan hidupku selama ini dan selama lamanya…hanya padaMu…Kalaulah tidak dengan rahmatMu dan belas kasihanMu nescayalah aku dan seluruh kehidupanku adalah dalam kecelakaan dan kegelapan… tiada daya upaya melainkan apa yang ada padaMU.
Aku berdoa agak lama. Rasanya tak puas berada disitu. Kiri kananku terdapat ramai orang yang sedang berdoa. Kedengaran ada juga yang merintih dalam doa mereka, sepertiku. Aku masih belum puas. Aku bangun dan terus mengerjakan solat sunat…Aku sendiri tak tahu berapa rakaat,sehingga aku teraasa puas. Selang seli solat sunat aku panjatkan doa, penuh pengharapan. Selesai di situ aku sekali lagi pergi minum air zam zam. Aku minum sepuas puasnya.
Selesai minum aku perlahan lahan berjalan keluar dari masjid. Kaabah yang indah itu terasa semakin jauh…dan semakin jauh. Semakin jauh.. dapatku lihat dari celah celah tiang masjid. Dikala itu masih terdapat begitu ramai tetamu Allah memenuhi masjid sambil solat,duduk2 dan baca Quran. Pagi ini sungguh asyik. Aku nikmati segalanga. Sambih hati ini melambai lambai kaabah, sesekala tangan ini terangkat angkat juga,melambai lambai menyahut suara hatiku ini. Terpisahlah hatiku ini denga apa yang dicintainya. Kekasih: Antara naikmat hati memandang dalam lautan cinta yang membakar. Perlahan lahan kali ini melangkah semakin jauh,,,terasa seolah-olah semakin jauh meninggalkan pintu cinta dan rahmat dari tuhan semua manusia dan tuhan semua makhluk dibumi ini. Aku keluar dari pintu Ab Aziz…perlahan menaiki dataran kearah jalan tempat bas yang akan mengambil kami. Selamat Tinggal: tinggallah kasih, tinggallah sayang dan entah bila aku akan kesini lagi.
Pukul 10 pg kami kembali semula ke hotel dan terus ambil bag untuk ke Air Port jedah.
Kegawatan hati amat terasa sekali.Telahku kumpulkan semua kenangan dan Iktibar. Telah ku hayati semua sirah dan debu pahit perjuangan silam. Telahku pahat dihati replika kota makkah dan madinah. Telahku coret sirah perjalanan hati ini dengan air mata yang tertumpah… yaa rab, aku telah datang menyahut pangilanmu. Telahku berlari kencang mengejar hidayahmu sedaya upayaku. Telahku kutip muatiara kebaikan bumiMu semampuku.Telahku laksanakan haji, umrah dan ziarah, Maka terimalah amalan ku..yang aku persembahkan hanya padaMu…Maka pad hari ini engkaupun tahu bahawa akau akan pulang, meninggalkan semua kenangan dan pengalaman indah ini. Ikutkan hati memang ingin sekali tinggal lebih lama, taapi akan daya…
Pagi ini terasakan tiada fajar yang menyinsing. Walaupun kepanasan mentari dan tanah kering kontang membahang kulit. Selepas subuh aku dan semua rombongan bersiap untuk pulang. Semua peralatan dan barang2 yang dibeli telah di packing sejak semalam lagi. Pagi ini kami dihantar oleh driver UQU ke HARAM untuk mengerjakan tawaf widhak( Selamat tinggal). Isteri sekali lagi tak berpeluang untuk mengerjakannya sepertimana tawah umra selamat datang dulu. Sungguh berbeza perasaan antara tawaf selamat datang dulu tu dengan tawaf selamat tinggal. Kalau dulu perasan ini dipenuhi dengan seribu tanda tanya dan debaran yang mencengkam tetapi pagi ini keresahan, kesedihan dan pilu nankudus mengigit perasaan. Kali ku melangkah longlai dalam kesedihan seolah meninggalkan pintu cinta…menjauhi rahmat dan pemeliharaan dari yang Agung.
Sebelum subuh kami bertolak ke HARAM. Masuk sahaja kedalam masjid kami masing masing buat hal sendiri, maalomlah kami dah sangat biasa setelah selama sebulan disini. Cuma kami berjanji akan berkumpul di tempat bas sahaja setelah selesai tawaf nanti, Kira kira jam 9 pg. Selepas solat subuh aku terus mengerjakan umrah bersendirian. Tawaf kali ini penuh emosi. Seolah ingin dihirup semua barakah dan kemuliaan tanah haram ini sebagai perbelakan sebelum pergi yang entah bila akan kembali lagi.Selesai tawaf aku pergi minum air zam zam sepuas puasnya sambil berwudhuk dengan air zam zam tu…walau ada yang bising2 d sebelah aku buat dek jer…sebab inilah kali terakhir aku akan berwudhuk disini.. selepas itu aku terus mencari ruang untuk mengerjakan soalat sunat tawaf. Di belakang sikit dari tempat kawasan tawaf, tetapi masih di dataran kaabah aku solat sunat. Setelah solat aku berdoa;Segala galanya aku hadapkan didepan pintu rumahMu ya Allah…segala janji, pengharapan dan permintaan, kebimbangan dan keluh kesah,resah. Seluruh perasaan dan hati bersatu dalam suatu kenikmatan memandang dan rasa, dihadapah pintu kaabahnan indah. Tangisku bukan lagi terisak isak tapi macam budah budak, kerana kegoncangan hati yang sungguh hebat melanda. Demi allah aku tidak pernah mengis seperti ini selama lama ini…ya …bukan aku yang mencipta tangisam ini tetapi hati ini yang memaksa…Aku tahu siapa aku dan aku tahu pada saat ini engkau sangat mendengar rintihan hatiku ini,maka aku serahkanlah segalanya padamu pada pagi ini. Serahkan hidupku selama ini dan selama lamanya…hanya padaMu…Kalaulah tidak dengan rahmatMu dan belas kasihanMu nescayalah aku dan seluruh kehidupanku adalah dalam kecelakaan dan kegelapan… tiada daya upaya melainkan apa yang ada padaMU.
Aku berdoa agak lama. Rasanya tak puas berada disitu. Kiri kananku terdapat ramai orang yang sedang berdoa. Kedengaran ada juga yang merintih dalam doa mereka, sepertiku. Aku masih belum puas. Aku bangun dan terus mengerjakan solat sunat…Aku sendiri tak tahu berapa rakaat,sehingga aku teraasa puas. Selang seli solat sunat aku panjatkan doa, penuh pengharapan. Selesai di situ aku sekali lagi pergi minum air zam zam. Aku minum sepuas puasnya.
Selesai minum aku perlahan lahan berjalan keluar dari masjid. Kaabah yang indah itu terasa semakin jauh…dan semakin jauh. Semakin jauh.. dapatku lihat dari celah celah tiang masjid. Dikala itu masih terdapat begitu ramai tetamu Allah memenuhi masjid sambil solat,duduk2 dan baca Quran. Pagi ini sungguh asyik. Aku nikmati segalanga. Sambih hati ini melambai lambai kaabah, sesekala tangan ini terangkat angkat juga,melambai lambai menyahut suara hatiku ini. Terpisahlah hatiku ini denga apa yang dicintainya. Kekasih: Antara naikmat hati memandang dalam lautan cinta yang membakar. Perlahan lahan kali ini melangkah semakin jauh,,,terasa seolah-olah semakin jauh meninggalkan pintu cinta dan rahmat dari tuhan semua manusia dan tuhan semua makhluk dibumi ini. Aku keluar dari pintu Ab Aziz…perlahan menaiki dataran kearah jalan tempat bas yang akan mengambil kami. Selamat Tinggal: tinggallah kasih, tinggallah sayang dan entah bila aku akan kesini lagi.
Pukul 10 pg kami kembali semula ke hotel dan terus ambil bag untuk ke Air Port jedah.
Subscribe to:
Posts (Atom)
-
Gengaman waktu dan ketika. 8-8-16. Gengaman terakhir saat melepaskan ayah tersenyum mengadap rabbnya... Kematian mengajar kita erti ...
-
Di suatu petang, seorang anak datang kepada ayahnya yg sedang asyik baca Quran… “Ayah, ayah” kata sang anak… “Ada apa nak?” tanya sang ayah…...
-
Cerita mini:Sang Helang Ada seekor helang sedang terbang merentasi sungai semasa musim sejuk. Ia memerhati satu bungkah ais terapung yang me...